Jumat, 27 Januari 2017
Rabu, 21 September 2016
The Efficiency of Zakah Institutions Using Data Envelopment Analysis
Abstract. The Efficiency of Zakah Institutions Using Data Envelopment Analysis. Although social based, but in its management the Zakah Institutions need to uphold professionalism, transparency and accountability. Most recently, in the measurement of the effectiveness of the management of zakah fund, known Zakah Core Principles concept. This study would try to measure the efficiency of 3 (three) Zakah Institutions with Data Envelopment Analysis (DEA) method. Banxia Frontier Analyst 3.1 used in data calculation. The calculation of the level of Zakah Institutions efficiency in this study are relative, not absolute. The results show that there is 12 fully efficient Decision Making Unit (DMU) Zakah Institution (100% efficient) and 6 DMU inefficient. The main factor inefficiency Zakah Institution from 2007 to 2014 due to the distribution of zakah funds to ashnaf. It is still less than optimal. So it has not been able to resolve the problem of poverty. Keywords: zakah institution; efficiency; data envelopment analysis; poverty
Abstrak. Efisiensi Institusi Zakat Menggunakan Data Envelopment Analysis. Meskipun berbasis pada kegiatan social, namun manajemen dari organisasi pengelola zakat tetap mengharuskan kegiatan yang menjunjung tinggi profesionalisme, transparansi, dan akuntabilitas. Saat ini pengukuran efisiensi manajemen pada organisasi pengelola zakat dikenal dengan konsep prinsip inti zakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat efisiensi pada tiga organisasi pengelola zakat dengan menggunakan data envelopment analysis. Alat bantu yang dipergunakan ialah Banxia Frontier Analyst versi 3.1. Pengukuran tingkat efisiensi organisasi zakat pada penelitian ini bersifat relatif dan bukan absolut. Hasil menunjukkan bahwa terdapat 12 unit pengambilan keputusan pada organisasi pengelola zakat yang beroperasi pada tingkat yang efisien dan enam unit pengambilan keputusan yang tidak efisien. Faktor utama inefisiensi pada organisasi pengelola zakat rentang waktu 2007 sampai dengan 2014 disebabkan oleh distribusi dana zakat pada ashnaf. Hal ini masih jauh dari optimal. Hal ini menjadikan zakat belum mampu menjadi solusi dalam pengentasan kemiskinan. Kata Kunci: organisasi pengelola zakat; efisiensi; data envelopment analysis; kemiskinan
[Aliqtishod Journal Vol 8 No 2, 2016]
Jumat, 19 Agustus 2016
Mengukur Tingkat Produktivitas OPZ di Indonesia
Produktivitas merupakan
istilah dalam kegiatan produksi sebagai perbandingan antara output dengan input.
Menurut Herjanto
(2007), produktivitas merupakan suatu ukuran yang
menyatakan bagaimana baiknya sumber daya diatur dan dimanfaatkan untuk mencapai
hasil yang optimal. Dengan kata lain produktivitas memliliki dua dimensi. Dimensi
pertama adalah efektivitas yang mengarah kepada pencapaian target berkaitan
dengan kualitas, kuantitas dan waktu. Yang kedua yaitu efisiensi yang berkaitan
dengan upaya membandingkan input dengan realisasi penggunaannya.
Meskipun berbasis sosial, namun dalam
pengelolaannya organisasi
pengelola zakat (OPZ) tetap perlu
menjunjung tinggi profesionalitas, akuntabilitas dan prinsip transparansi.
Termasuk dalam term ini adalah OPZ perlu beroperasi secara efektif, efisien serta produktivitas yang tinggi. Yang terbaru, dalam pengukuran efektifitas pengelolaan
dana zakat, Baznas bekerjasama dengan Bank Indonesia menggagas konsep Zakah Core Principles (Beik et al,
2014). SMART Consulting tertarik untuk meneliti sejauh mana tingkat
produktivitas lembaga zakat di Indonesia belakangan ini.
Untuk mengukur produktivitas lembaga zakat yang
diobservasi, penelitian ini menggunakan analisis Malmquist Productivity Index
(MPI). Indeks Malmquist secara spesifik melihat tingkat produktivitas
masing-masing unit bisnis, dalam hal ini organisasi pengelola zakat, sehingga akan terlihat perubahan dari tingkat efisiensi dan
teknologi yang digunakan berdasarkan input dan output yang telah ditetapkan.
Indeks ini juga digunakan untuk menganalisis perubahan kinerja antarwaktu.
Indeks Malmquist pertama kali dibuat
oleh Sten Malmquist pada 1953 untuk mengukur produktivitas. MPI berlandaskan
pada konsep fungsi produksi (production function) yang mengukur fungsi produksi
maksimum dengan batasan input yang sudah ditentukan. Dalam perhitungannya,
indeks ini terdiri atas beberapa hasil yaitu: efficiency change (effch), technological change (techch), pure efficiency change (pech),
economic scale change (sech) dan TFP change (tfpch).
Data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah 4 Organisasi Pengelola Zakat dari tahun 2012 hingga 2014. Empat OPZ ini adalah relatif terbesar
dibanding OPZ lain. Mereka adalah: Baznas, PKPU, Rumah Zakat dan Dompet Dhuafa.
Tahun 2014 adalah tahun terakhir observasi karena laporan tahun 2015 masih
belum terpublikasi.
Variabel input dan output didapat dari
laporan keuangan
publikasi tahunan masing-masing OPZ. Tiga input dan dua output digunakan untuk mengukur efisiensi
dan tingkat produktivitas. Sebagai variabel input adalah Beban SDM (X1), Beban Sosialisasi (X2)
dan Beban
Operasional (X3). Sementara itu untuk variabel
output yaitu Dana
Penerimaan Zakat (Y1) dan Dana Penyaluran Zakat (Y2).
Hasil yang diperoleh dari skor indeks produktivitas Malmquist (TFP Change) menunjukkan bahwa 3 OPZ
mengalami peningkatan produktivitas dan 1 OPZ yang mengalami penurunan tingkat produktivitas
selama periode observasi. Ketiga OPZ yang mengalami peningkatan
adalah: Baznas (2.429), RZI (2.011) dan Dompet Dhuafa (1.938). Kondisi ini ditandai dengan skor 'TFP Change' lebih dari 1. Sementara PKPU menunjukkan tingkat produktivitas yang relatif menurun
(0.864).
Pengukuran tingkat efisiensi dan produktivitas, tidak hanya perlu dilakukan oleh lembaga bisnis seperti perbankan dan LKS lain, tapi
juga penting secara berkala dan konsisten dilakukan
oleh lembaga social seperti OPZ. Hal ini bermanfaat dalam rangka evaluasi dan analisis yang lebih dalam
sehingga penentuan arah kebijakan pengembangan zakat nasional lebih tepat dan konsisten.
Jumat, 05 Agustus 2016
Analisis Sentimen terhadap Zakat di Indonesia
Sentiment Analysis adalah sebuah
cabang penelitian pada domain Text Mining yang mulai booming pada awal tahun
2002-an. Risetnya mulai marak semenjak paper dari B.Pang dan L.Lee muncul.
Sederhananya, text mining lebih bertujuan untuk mengolah kata, bukan mengolah
angka.
Sentiment analysis terdiri dari 3
subproses besar yakni: Subjectivity Classification, Orientation Detection dan
Opinion Holder & Target Detection. Hingga saat ini, hampir sebagian besar
penelitian di bidang sentiment analysis ditujukan untuk Bahasa Inggris karena
memang Tools/Resources untuk bahasa inggris sangat banyak. Beberapa resources
yang sering digunakan untuk sentiment analysis adalah SentiWordNet dan WordNet.
SMART Consulting sebagai sebuah
lembaga yang fokus dalam riset ekonomi syariah mencoba mengukur tingkat
sentimen publik terhadap kondisi zakat di Indonesia. Dipilih 30 dokumen
spesifik yang digunakan sebagai sumber data. Tools Semantria digunakan sebagai
alat bantu pengolahan.
Hasil analisis sentimen
terhadap kondisi zakat di Indonesia memperlihatkan kondisi berikut. Sebanyak
27% menunjukkan sentimen positif. Demikian pula 27% mengarah kepada sentimen
negatif. Sisanya sebesar 46% menunjukkan sentimen yang netral.
Rasionalisasi yang
memungkinkan adalah, meskipun realisasi himpunan dana zakat baru sekitar 1,3
persen dari potensinya, namun trendnya menunjukkan hal positif. Inovasi yang
dilakukan OPZ maupun awareness masyarakat muslim yang kian hari kian paham akan
pentingnya zakat jika diberdayakan secara optimal, menjadi berita
menggembirakan. Seperti halnya wakaf, zakat juga merupakan instrumen
sosial Islam yang akan berperan signifakan di masa mendatang. Insya Allah.
Kamis, 04 Agustus 2016
Text Analytics atas Literatur Zakat
Potensi zakat Indonesia dalam setahun mencapai Rp 217 triliun (versi lain mencapai Rp 286 triliun). Tapi realisasinya saat ini menurut riset SMART Consulting baru terhimpun sekitar 1,3 persen saja. Faktanya, dalam 20 tahun terakhir perkembangan lembaga amil zakat di Indonesia berkembang cukup pesat. Namun di sisi lain, jumlah penduduk miskin dan kaum dhuafa di Indonesia justru terus bertambah.
Zakat memang unik. Ia sekaligus memiliki 3 dimensi ibadah. Personal, sosial dan ekonomi. Pertama, dimensi spiritual personal. Zakat merupakan perwujudan keimanan kepada Allah SWT sekaligus sebagai instrumen untuk purifikasi dan penyucian jiwa dari segala penyakit ruhani, seperti bakhil dan tidak peduli sesama.
Kedua adalah dimensi sosial, dimana zakat berorientasi pada upaya untuk menciptakan harmonisasi kondisi sosial masyarakat. Hubungan antara muzakki dan mustahik lebih terjaga. Miskin dan kaya diharapkan tidak terlalu timpang perbedaannya. Melalui zakat, hal itu sangat mungkin dicapai dan direalisasikan.
Yang ketiga adalah dimensi ekonomi, yang tercermin pada dua konsep utama, yaitu pertumbuhan ekonomi berkeadilan (QS 30:39) dan mekanisme sharing dalam perekonomian (QS 51:19). Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan kaum dhuafa. Pada jangka pendek, kebutuhan primer mustahik dapat terpenuhi, sementara pada jangka panjang, daya tahan ekonomi mereka akan meningkat, sekaligus menstimulasi pertumbuhan ekonomi.
Berdasarkan hasil riset terkait terma zakat atas 30 dokumen spesifik dengan pendekatan text mining, didapatkan beberapa hasil. Pertama, term zakat berkaitan dengan beberapa kategori dan subkategori. Business (0,368), Health (0,184) dan Labor (0,158) menjadi 3 kategori utama. Sementara kategori berikutnya adalah: International Relation (0,079), IT (0,079), Research (0,079) dan Society (0,053).
Kedua perihal sentiment analysis. Analisis sentimen terhadap kondisi zakat di Indonesia memperlihatkan kondisi berikut. Sebanyak 27% menunjukkan sentimen positif. Demikian pula 27% mengarah kepada sentimen negatif. Sisanya sebesar 46% menunjukkan sentimen yang netral. Meskipun realisasi himpunan dana zakat baru sekitar 1,3 persen dari potensinya, namun trendnya menunjukkan hal yang menggembirakan. Terlihat dari inovasi yang dilakukan OPZ maupun awareness masyarakat muslim yang kian hari kian paham akan pentingnya zakat jika diberdayakan secara optimal.
Jumat, 29 Juli 2016
Measuring the Efficiency of Dompet Dhuafa Program
Zakat Institution (OPZ) is the intermediary organizations based on social. The entire of operating expense is taken from the zakat and infaq funds. It is also justified by Sharia, because OPZ committee is Amilin zakat that also included in eight ashnaf eligible for zakat. (Akbar: 2009).
In this study, SMART Consulting would try to measure Dompet Dhuafa’s program as Decision Making Unit (DMU) in the level of efficiency. DD is Non Profit Organization for global empowerment.
The input and output variables derived from the financial statements of Dompet Dhuafa. The input consists of Operating Expenses (X1), and Socialization Cost (X2) while the output variables comprises of Total Deposits Zakat (Y1) and Total Fund Distribution (Y2).
In Table below can be seen, Dompet Dhuafa program that include to efficient (Constant 100%) in 2014 are zakat, infak fund certain infak program. Moreover, Dompet Dhuafa programs that include to efficient in 2013 are infak fund. Based on the explanation, the lowest efficiency of Dompet Dhuafa program is Wakaf fund in 2012 (19.45%). This is able to be a consideration for other program in Dompet Dhuafa that has not been efficient in order to improve the technical efficiency. There are 7 DMU that efficient (100%). And inefficient as much as 23 DMU.
Zakat Institutions, both BAZ and LAZ, need to do the counting of efficiency levels routinely and regularly so that it knows the efficiency level, potential improvement and its benefit and weakness in general, within the framework of efficiency analysis.
Sabtu, 23 Juli 2016
Aplikasi GIS Untuk Pemetaan Dana Himpunan Zakat Nasional
Geographic Information System disingkat GIS adalah sistem informasi khusus yang mengelola data yang memiliki informasi spasial (bereferensi keruangan). Atau dalam arti yang lebih sempit, adalah sistem komputer yang memiliki kemampuan untuk membangun, menyimpan, mengelola dan menampilkan informasi berefrensi geografis, misalnya data yang diidentifikasi menurut lokasinya, dalam sebuah database.
Setelah melakukan mapping data lahan wakaf di seluruh wilayah Nusantara, kali ini SMART mencoba memetakan daerah di Indonesia terkait dana himpunan zakat dengan pendekatan GIS. Tools yang digunakan adalah Target Map. Data berasal dari Bimas Islam dalam Angka Kementerian Agama. Sayangnya, data terakhir adalah tahun 2013 dengan beberapa 10 provinsi memiliki nilai nihil.
Berdasarkan hasil yang dapat dilihat pada gambar di bawah, 33 provinsi dibagi ke dalam 5 kelompok. Klasifikasi ini didasarkan pada perolehan dana zakat masing-masing provinsi. Kelompok pertama (warna hijau tua) adalah provinsi dengan dana himpunan zakat di atas Rp 200 miliar. Provinsi yang masuk pada kelompok ini yaitu Provinsi Jambi. Provinsi ini adalah daerah dengan himpunan dana zakat tertinggi di Indonesia.
Kelompok kedua adalah provinsi dengan dana himpunan zakat antara Rp 100 hingga 200 miliar (warna hijau muda). Ada 2 provinsi yang masuk kelompok ini yaitu: Kalimantan Timur dan DKI Jakarta. Kedua provinsi ini masuk ke dalam daerah dengan dana himpunan zakat relatif tinggi.
Kelompok ketiga adalah provinsi dengan dana himpunan zakat antara Rp 10 hingga 100 miliar (warna kuning). Sedikitnya terdapat 10 provinsi yang masuk kelompok ini yaitu: Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Banten, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, NTB, Sulawesi Barat, Gorontalo dan Provinsi Papua. Daerah-daerah ini masuk dalam provinsi dengan dana himpunan zakat sedang.
Kelompok keempat adalah provinsi dengan dana himpunan zakat antara Rp 1 hingga 10 miliar (warna oranye). Terdapat 7 provinsi yang masuk kelompok ini yaitu: DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTT, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tenggara dan Papua Barat. Daerah-daerah ini masuk dalam provinsi dengan dana zakat yang relatif rendah.
Kelompok terakhir adalah provinsi dengan dana himpunan zakat di bawah Rp 1 miliar (warna merah). Provinsi Sulawesi Tengah, Maluku Utara dan Provinsi Maluku adalah daerah yang masuk dalam kelompok dengan himpunan zakat paling rendah.
Langganan:
Postingan (Atom)






